| Abstract |
Menjaga keseimbangan sistim fluida reservoir melalui optimalisasi fungsi sumur reinjeksi, merupakan bagian dari manajemen reservoir dan sesuai dengan Strategic Business Unit (SBU) agar komitmen kontrak kerja dengan pihak lain dan memperpanjang umur lapangan dapat dicapai. Berdasarkan kesepakatan Pertamina dengan PT. PLN, Pertamina Kamojang harus mensuplai uap ke Turbin Unit I sebanyak 236 ton/jam (30 MWe) sampai dengan tahun 2007 dan Turbin Unit II dan III sebanyak 836 ton/jam (110 MWe) sampai dengan tahun 2013. Monitoring produksi memperlihatkan sumur-sumur blok kluster KMJ-14 mengalami penurunan 0.49-3.22 %/thn, blok kluster KMJ-13, 2-19.73 %/thn, blok Kluster KMJ-26, 1.07-22.05 %/thn Secara keseluruhan penurunan produksi sekitar 7 %/thn. Monitoring Tritium memperlihatkan kecepatan aliran air reinjeksi KMJ-15, 2 kali lebih cepat ke blok kluster KMJ-14 dibanding blok kluster KMJ-26. Penurunan produksi dapat diketahui melalui monitoring produksi, sedangkan penyebabnya dapat diketahui melalui monitoring geokimia gas yang dikombinasikan dengan pengukuran tekanan dan temperatur (p&t) di feed zone. Monitoring Tritium dapat mengetahui pola aliran dan perkiraan waktu tempau air reinjeksi. Dengan ditempatkan dan diaktifkannya fungsi sumur reinjeksi maka laju penurunan produksi dapat ditekan menjadi rata-rata 1.5%/thn. Sehingga diperoleh keuntungan buat perusahaan berupa perpanjangan perioda penjualan uap turbin unit I (30 Mwe) dari tahun 2007 sampai dengan 2013 dan penghematan biaya pemboran make-up well (MW) dari 1MW/thn menjadi 1MW/3thn. |